BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS »

1.2.14

Starry Night


Mungkin judul yang saya tulis terasa familiar bagi sebagian orang. Ya, The Starry Night merupakan salah satu lukisan yang cukup terkenal di dunia. Jadi, apa saya akan membuat review tentang lukisan pada posting kali ini? Nggak kok, saya bukan seniman yang cukup handal untuk mengomentari karya Vincent van Gogh ini. Dan lagi, ada gerangan apa gitu ya sampai saya mau review tentang lukisan, kekeke.


Saya menulis ini karena teringat bintang dan langit malam di Surabaya. Selama kuliah, pulang sampai larut malam seperti sudah jadi hal biasa, kecuali kalau di kampus listrik mati. Dalam satu semester, pasti ada kalanya listrik padam, beberapa kali malahan, entah itu pemadaman bergilir atau masalah lainnya. Kalau pagi sampe sore gak terlalu masalah penerangannya. Cuma kalau malam, rasanya gak ada banget yang bisa dilakukan di kampus waktu listrik mati. Tempatnya gelap, gak bisa nge-charge, wifi gak ada, susah mau ngapa-ngapain.

Pernah suatu ketika saya harus balik kos karena listrik mati di kampus waktu malam, gak terlalu malam sih, jam 7an kira-kira. Biasanya kalau naik sepeda malam hari ya saya lihat jalanan aja, kadang nengok ke atas memandang langit gelap dengan bintang dan bulan jika memang masanya terlihat. Tekstur langit saat dilihat dari bawah masih sama di mata saya, sebelum akhirnya saya melewati jalanan tanpa lampu penerangan. Bukan cuma jalan, perumahan blok U tempat kos saya juga listrik mati. Jadi sepanjang rute pulang itu memang gak ada sesuatu yang bikin terang benderang. Tapi keadaan sekitar masih terlihat, mungkin dari cahaya yang dipantulkan bulan, dan langit malam yang beda dari biasanya saat itu…

Pernah lihat gambar luar angkasa yang biasanya ada di buku-buku pelajaran atau di situs-situs internet? Ya, langitnya hampir seperti itu. Jika ada yang tanya apa terlihat planet bulat dengan skala sangat kecil dan warna-warna mencolok, maka jawabannya tidak. Saat itu yang saya lihat hanya benda-benda langit berbentuk butiran warna putih. Yang membuat beda adalah gradasi gelap kecoklatan pada langit, seperti ada kilat dengan warna buram dan kabut-kabut. Saat melihat itu saya jadi teringat galaksi, galaksi yang sangat jauh dan terlihat pudar di mata. Sayangnya cuma lihat sebentar, padahal kalau dipikir ingin lihat lebih lama lagi buat mengamati.

 bukan, ini cuma nemu
(creadit for image)

Jika seluruh Surabaya tidak memakai penerangan pada malam hari, mungkin langit akan terlihat berbeda lagi. Bagaimana jika satu negara, satu benua, atau bahkan semua yang ada di permukaan Bumi, tentu langit malam akan sangat berbeda. Beberapa orang telah mengambil gambar di tempat-tempat sepi pemukiman untuk mengabadikan momen yang tepat; dan ternyata gurun, kutub, serta hutan membuahkan hasil yang menakjubkan saat angkasa di atas sana sepi dari mendung. Gak tempat-tempat itu aja kok, di beberapa tempat lain yang memungkinkan juga bisa.


Kemudian terpikirkan, bagaimana orang-orang dahulu melihat langit malam ketika belum ada penerangan elektronik. Kalau sekarang kan zamannya light pollution. Padahal light pollution ini juga menarik untuk dilihat pada malam hari, cocok untuk hiasan tempat-tempat modern, tapi memang membutuhkan banyak energi. Penerangan yang berlebihan membuat apa yang ada di angkasa luar sana menjadi terhalang. Seperti pada siang hari, saat benda-benda langit kalah dengan cahaya dari Matahari, bintang yang paling dekat dengan Bumi.
 

Kalau begini jadi tahu kan, bintang di kejauhan akan terlihat lebih indah saat langit sedang gelap :)

No comments:

Post a Comment